Merawat Kangkung, Merawat Bumi: Sebuah Refleksi Iman Katolik


Merawat Kangkung, Merawat Bumi: Sebuah Refleksi Iman Katolik


Pada tanggal 20 Januari 2026, saya dan teman-teman angkatan kelas sembilan akan mengikuti ujian praktek pelajaran Agama dan Bahasa Indonesia. Sebelum ujian praktek dilaksanakan, saya dan teman-teman saya diwajibkan untuk menanam kangkung terlebih dahulu. Dari proyek ini saya ingin belajar untuk mengamati proses pertumbuhan tanaman kangkung dari awal hingga siap panen, dan juga ingin melatih kesabaran dalam merawat tanaman kangkung. Saya percaya, melalui proyek ini, saya juga belajar untuk selalu setia dalam hal-hal kecil sebagaimana Tuhan Yesus mengajarkan dalam perumpamaan tentang biji sesawi yang tumbuh menjadi besar. Matius 13:31-32 “Kerajaan Surga seperti biji sesawi yang ditanam di ladang. Benih itu terkecil dari segala benih, tetapi ia dapat tumbuh menjadi salah satu tanaman yang terbesar, sehingga burung-burung dapat membuat sarang di antara cabangnya.”.


Hari pertama, saya sangat senang dan semangat karena mengetahui bahwa kami akan menanam kangkung bersama-sama. Dari mulai persiapan saya sudah sangat berusaha mencari pot yang lucu, aesthetic, dan indah untuk dipandang, tetapi untuk tanahnya saya sangat mudah untuk mendapatkannya karena saya membeli di Pak Sigit dengan harga Rp.10,000 satu orang. Saya sudah sangat di untungkan membeli di Pak Sigit karena campuran tanah yang dibeli sudah termasuk tanah lembang, pupuk kompos, sekam bakar dan juga biji kangkung. 

Awal mula menanam tanaman kangkung ini saya sudah yakin bahwa tanah yang saya pakai adalah tanah yang subur serta menggunakan biji kangkung yang tentunya berkualitas sehingga saya tidak khawatir lagi bahwa tanaman kangkung saya akan mati atau layu. Benih yang saya tanam terlihat kecil dan kurang meyakinkan, tetapi saya yakin dan percaya bahwa biji tersebut akan tumbuh dengan subur hingga siap panen nanti.


Proses pertumbuhan tanaman kangkung ini sangat memerlukan banyak waktu untuk sampai ke hari hasil panen oleh sebab itu saya harus bersabar untuk menunggu tanaman kangkung ini. Saya rutin menyiram dan mengamati tanaman saya setiap harinya untuk mencari perkembangan. Pada tanggal 21 Januari dua biji kangkung sudah tumbuh tunas saat itu saya sangat kaget dan tentunya sangat senang. Tidak ada orang yang tidak memiliki kesempatan  untuk menjaga dan merawat ciptaan Allah. 



Dalam proses pertumbuhan tanaman kangkung ini tentunya terdapat tantangan dan hambatan yang di alami. Tantangan dan hambatan saya tidak banyak hanya di saat Putra menyiram tanaman kangkung saya secara berlebihan sehingga membuat beberapa batang tanaman kangkung saya ada yang mati dan layu di situ saya sangat marah tetapi saya dapat mengendalikan diri untuk tidak membalas dendam ke tanaman kangkung milik Putra. Setelah saya mengetahui tanaman kangkung saya ada yang mati dan layu saya mencari jalan yaitu meminta biji kangkung lagi kepada Pak Sigit. Dari kejadian itu saya belajar tanaman adalah makhluk hidup yang harus kita jaga dan rawat layaknya manusia yang berada di dekat atau sekitar kita. 

Setelah proses pertumbuhan kangkung ini selesai dapat diambil pelajaran hidup yaitu mengajarkan bahwa hasil tidak bisa dipaksa karena semua ada waktunya, di mana ketekunan menjaga hal kecil membentuk tanggung jawab yang kuat, sementara semangat tanaman yang bangkit dari kerusakan menjadi bukti agar kita pantang menyerah dalam ikatan saling menjaga yang tulus.

Dalam kitab kejadian "Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dan melihat bahwa itu baik." (Kej 1:12). Benih, tanah, air, matahari adalah anugerah cuma-cuma dari Allah. Kangkung ini adalah bagian dari "rumah bersama" yang dipercayakan-Nya. Perumpamaan tentang benih yang tumbuh "Kerajaan Allah itu seperti orang yang menaburkan benih di tanah. Malam dan siang berlalu, orang itu tidur dan bangun, dan benih itu bertunas serta tumbuh, tanpa ia mengetahui bagaimana terjadinya. Tanah dengan sendirinya menghasilkan buah: mula-mula batang, lalu bulir, kemudian gandum yang matang. Ketika buah itu siap, orang itu segera menuainya karena musim panen sudah tiba" (Markus 4:26-29). Panggilan manusia sebagai penjaga dan pengelola taman Eden (Kej 2:15). "Kita dipanggil untuk menjadi alat Tuhan untuk menjaga ciptaan." Merawat satu pot kangkung adalah latihan awal untuk tanggung jawab lingkungan yang lebih besar.


Dari proyek ini dapat disimpulkan bahwa tanaman apapun dan jenis apapun itu sama-sama ciptaan Tuhan yang perlu kita rawat dengan sepenuh hati supaya dapat tumbuh dengan sehat dan positif. Menanam kangkung juga pastinya membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk sampai di hari panen oleh sebab itu diperlukan juga kesabaran yang sangat besar. 

Supaya proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan hasil yang memuaskan alangkah baiknya berdoa : "Ya-Tuhan terima kasih karena engkau sudah memberikan saya waktu dan kesempatan untuk dapat menanam kangkung dari awal hingga hasil panen nanti, saya berharap engkau memberkati tanaman kangkung saya supaya dapat tumbuh dengan subur dan dapat dimasak menjadi olahan yang enak di santap dan menjadi berkat bagi tubuh kami, Amin."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGENALAN DIRI

SAINT MARY WAY

HOBI